ANTARA News - Internasional

Sunday, October 23, 2011

Pelicin Makbulnya Doa

Suatu kali Saad bin Abi Waqas datang menghadap kepada Rasulullah saw. Sudah lama Saad bermunajat kepada Allah, namun keinginannya itu tak kunjung dikabulkan. Dengan hati nelangsa, Saad menghadap kepada Rasulullah melaporkan kegundahan hatinya.
"Ya, Rasulullah saw, aku telah berdo'a, tetapi tak kunjung dikabulkan juga," katanya, "adakah gerangan yang salah?"
Rasulullah pun menjawab, "Hai Saad, hindarkanlah makanan haram. Ketahuilah, setiap perut yang diisi dengan sesuatu yang haram, sekalipun hanya sesuap nasi, maka doanya ditolak selama 40 hari."

Di lain kesempatan seorang mengadu kepada ahlul hikmah tentang permasalahan yang sama. Orang terakhir ini nampaknya hafal dengan dalil-dalil. Kepada ahlul hikmah tersebut dia berkata, "Wahai Ahlul Hikmah, kenapa do'a kami tidak kunjung dikabulkan, bukankah Allah berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan", katanya, sembari mengutip surat Al Mu'min ayat 60. Si ahli hikmah menjawab dengan rinci apa yang menjadi sumbatan doanya itu dengan berkata, "Ada 7 faktor penghambat yang selama ini kau melakukannya, yaitu:

1.    Melakukan perbuatan yang mengundang amarah Allah, dan tidak segera bertaubat atau menyesalinya. Padahal diketahui bahwa Allah sangat tidak senang dengan perbuatan itu, akan tetapi saudara tetap saja melakukan perbuatan tersebut secara terus-menerus bahkan tanpa diiringi dengan penyesalan.

2.    Pernyataan palsu, yaitu mengatakan "kami hamba Allah", tetapi tidak seperti buruh yang taat kepada majikannya. Allah dianggap 'teman' atau 'orang lain' sehingga yang lebih ditakuti adalah makhluk ciptaanNya daripada Allah SWT sendiri. Allah ada, tapi kau anggap Allah tidak ada.


3.    Tidak melaksanakan Al Qur'an, sekalipun setiap saat membacanya. Tetapi acuh terhadap perintah atau larangan yang dikandungnya.

4.    Mengakui Muhammad sebagai Nabi dan utusan-Nya, namun kamu mengkingkari sunah-sunahnya, sehingga tetap makan (melanggar barang) yang haram.


5.    Mengerti bahwa: "Dunia tiada harganya di sisi Allah walau sesayap nyamuk, tetapi karenanya (dengan dunia), perasaanmu menjadi tenteram.

6.    Kau mengerti bahwa dunia ini fana, tetapi kau berbuat seakan-akan kekal baginya (tidak mau berpisah dengannya). Bahkan kau menganggap dunia ini sebagai yang wajib digenggam kuat-kuat dan jangan dilepaskan selama-lamanya.

7.    Mengerti bahwa akhirat lebih utama daripada dunia, tetapi tidak beramal demi akhirat dengan sepenuh hati, bahkan berlaku sebaliknya.

Nasihat Rasulullah dan Ahli Hikmah semacam di atas, barangkali tidak terlalu populer. Apalagi pada situasi yang sedang 'padat pendapat' seperti pada saat sekarang ini. Kecenderungan arus membawa orang pada sesuatu yang bersifat sesaat (instan). Akibatnya, aspek-aspek transendental menjadi 'mudah' untuk tidak menyebut 'sangat' gampang dilupakan. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan, akibat sesuap nasi haram, ternyata berakibat pada tertutupnya kran do'a selama 40 hari. Bagaimana bila lebih dari itu?

Logikanya, Allah tidak ridha meng-ijabahi do'a berkhasiat dunia-akhirat pada sosok yang dalam sel-sel tubuhnya berkembang darah dan daging haram.

Wallahu a'lam bishshowab.

No comments:

Post a Comment